Di Ethiopia, ada sebuah lembah yang bernama “Lembah Omo”. Tidak banyak orang yang tahu mengenai kehidupan yang ada disana. Orang-orang yang tinggal disana hampir tidak berhubungan dengan dunia luar, tidak ada hukum di tempat itu, orang yang memiliki kedudukan tertinggi yang bertanggung jawab dengan semua hal yang ada disana. Tradisi mereka masih berdasarkan tradisi nenek moyang mereka, begitu juga dengan peraturan yang ada disana. Nah, bagi orang asing mungkin peraturan mereka ini sulit untuk diterima.
Ada danau yang jaraknya cukup jauh dari suku disana, di dalam danau itu hidup sekelompok buaya. Berdasarkan tradisi, seorang anak akan dieksekusi dan dilempar ke danau itu sebagai makanan buaya.
Suku tersebut mengikuti legenda Mingi dan percaya adanya jiwa yang terkutuk dan tidak bersih. Jika seorang anak lahir tanpa ijin dari ketua suku, maka anak tersebut akan dieksekusi.
Jika gigi seorang anak rusak, maka hal itu dianggap tidak menghormati dewa. Kepala suku akan membiarkan dewa menjatuhkan hukuman, antara dibuang ke danau yang penuh buaya atau dibuang ke gunung.
Jika tidak ada kepercayaan Mingi, tingkat kehidupan anak juga tidak tinggi, setengah dari mereka akan mati kelaparan. Beberapa anak juga mati karena bermain di daerah yang berdebu. Obat yang ada di suku itu tidak dianggap penting, mereka lebih percaya pada para dewa, jika anak-anak sakit, maka mereka akan meminta kepada penyihir untuk menyembuhkan.
Sejak kecil, anak-anak sudah terlibat dalam pekerjaan yang berat, dan banyak anak yang dieksekusi, hal ini membuat anggota suku semakin lama semakin berkurang.
Ini adalah perpisahan terakhir ayah dan anak. Anak yang terpilih akan diletakkan di perahu, dibiarkan hanyut dan menjadi makanan buaya.
Sponsored Ad
Status wanita disini sangat tinggi, sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh kaum pria, dan wanita hanya perlu menjahit di rumah. Ketua suku disana boleh memiliki ratusan istri.
Jika seseorang melahirkan anak kembar, maka ketua suku akan mengirim orang untuk mengambil anak itu. Kemudian memanggil semua anggota suku dan hal ini tidak bisa dihindari oleh orang tua.
Jika ada wanita yang belum menikah, tapi memiliki anak, maka ia dan anak itu akan langsung dieksekusi. Tidak peduli anak siapa, umur berapa, akhirnya pasti adalah kematian.
Setiap anak sangat berharga, sehingga setiap orang tua berhati-hati dalam menjaga anak mereka yang masih hidup, terutama wanita.
Dengan kemajuan peradaban, anggota suku lama kelamaan menyadari bahwa tradisi ini adalah hal yang buruk, dan mereka akhirnya meninggalkan kebiasaan tradisi itu secara perlahan-lahan.
Di dalam gambar di atas, terlihat seorang profesor yang sedang menjelaskan kepada anggota suku, dan mereka terlihat serius mendengarkan. Suku di pedalaman ini jumlahnya ada puluhan ribu, dan ada juga suku lain yang tidak dikenal, banyak dari mereka yang tidak berdosa, menangis.
Semoga mereka bisa sadar dan mengerti ya, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah hal yang tidak manusiawi.
Sumber: fafa
Sumber : BeritaSemasa